Gedung Perkantoran Bersejarah di Surabaya

Suatu gedung perkantoran bersejarah tak pernah lepas dari sejarah sang pemilik, itulah yang tergurat dari kisah sejarah peradaban kota pahlawan ini, Surabaya.

gedung perkantoran bersejarah
Foto: http://goo.gl/JSI1PB

Eksistensi Gedung Perkantoran Bersejarah di Surabaya

Gedung-gedung tinggi pencakar langit dapat dengan mudah ditemui di kota yang memiliki predikat kota metropolitan kedua di Indonesia ini, bahkan jika malam tiba gedung-gedung pencakar langit ini bagaikan menara cahaya yang menghias pusat keramaian kota.

Akan tetapi apakah ini yang menjadi tolak ukur sebagai gedung perkantoran yang memiliki daya tarik di era modern ini?

Dimana gedung-gedung tinggi pencakar langit ini memiliki banyak sekat ruangan yang desain interiornya hampir sama dan ukuran luas ruangannya pun juga hampir sama, memang jika dilihat dari segi efisiensi ruangan sangatlah memadai, akan tetapi jika dilihat dari segi estetika dan karakter, desain interiornya jelas dapat dikatakan sebagai hal yang biasa saja.

Hal ini dikarenakan hampir semua gedung perkantoran modern memiliki ciri yang homogen ataupun ciri yang hampir sama, yaitu memiliki gedung yang tinggi, memiliki banyak sekat ruangan, memiliki banyak sekat antar meja kerja pegawainya dan menempatkan peralatan-peralatan yang bersifat model minimalis dan terbuat dari bahan yang semi permanen.

Perlu kiranya kita melihat desain ruangan kerja yang memanfaatkan gedung-gedung perkantoran bersejarah dari jaman kolonial di kawasan kota tua Surabaya, di kawasan ini memiliki beberapa gedung perkantoran bersejarah yang masuk dalam daftar sebagai cagar budaya kota Surabaya yang memiliki kondisi fisik gedung masih sangat layak dan bagus, sehingga dimanfaatkan sebagai gedung-gedung perkantoran instansi pemerintah maupun perkantoran swasta. Salah satu contohnya adalah Gedung Bank Mandiri yang terletak di jalan Pahlawan, Surabaya.

Gedung ini memiliki kisah sejarah panjang yang terangkum dalam perkembangan jaman kota Surabaya. Sejarah gedung ini dulunya adalah gedung Lindeteves Stokvis milik perusahaan dagang Belanda. Gedung ini dibangun pada tahun 1911 dan dirancang oleh Biro Arsitek Hulswit, Fermont dan Ed. Cuypers dari Batavia (Jakarta). Setelah takluknya Belanda terhadap Jepang, gedung ini beralih fungsi menjadi Kitahama Butai, yaitu bengkel dan gudang  untuk menyimpan peralatan  perang  dan kendaraan tempur tentara Jepang.

Interior kantor yang berbeda di setiap jaman

Berbeda jaman tentu akan berbeda pola pengaturan ruangan. Bila kita memasuki gedung perkantoran modern tentu kita akan melihat ruangan yang terkesan rapi, warna yang digunakan pada dinding maupun lantai tergolong warna-warna cerah, dan setiap sudut-sudut ruangan sangat efisien pemanfaatannya, sehingga tidak ada space yang terbuang percuma.

Selain itu penggunaan corak pada langit-langit ruangan terkesan biasa saja, dominasi material-material khusus tidak tampak terlihat pada aspek ini, begitu juga penggunaan warna pada langit-langit ruangan selalu menyesuaikan dengan warna dinding ruangan yang lebih dominan menggunakan warna terang.

Detail pada ruangan perkantoran modern lebih sering menggunakan perabot yang sifatnya non permanen sehingga mudah diubah maupun dipindahkan tata letaknya sesuai dengan perubahan yang akan dilakukan pada ruangan tersebut, dan inilah salah satu kelebihan ruang perkantoran modern, dapat diubah dan disesuaikan menurut kebutuhan.

Kondisi yang sangat berbeda akan kita temukan pada desain interior kantor gedung perkantoran bersejarah milik Bank Mandiri yang terletak di jalan Pahlawan Surabaya (Komplek Kota Tua), pada bangunan ini lebih tampak eksklusif dan bahkan dapat dibilang mewah pada masanya.

Karakter desain yang ditonjolkan jelas memunjukkan kesan mewah ala kolonial Eropa, ketika kita masuk ke dalam gedung, pilar-pilar kuno dapat kita lihat masih kokoh menyangga atap bangunan ini. Pintu-pintu kaca dengan bingkai aluminiun tidak akan kita jumpai di sini karena masih menggunakan daun jendela dari kayu jati yang berbentuk busur melengkung sebagai kusen dari kaca di setiap jendela.

Daun pintu berbahan ringan (kayu olahan) tidak akan juga kita temukan disini, dimana semua pintu masih menggunakan kayu-kayu jati yang berukuran besar seperti khas gedung-gedung kuno eropa, dan yang lebih menarik di gedung perkantoran bersejarah ini adalah memiliki tinggi ruangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan perkantoran modern pada umumnya dan pada langit-langit terdapat ornamen-ornamen khas eropa yang tidak akan kita jumpai di gedung-gedung jaman sekarang.

Berikutnya yang akan membuat kita kagum adalah kebisingan, walaupun Gedung Bank Mandiri jalan Pahlawan Surabaya ini  terletak tepat di pinggir jalan dan tepat di depan lampu merah akan tetapi ketika kita masuk ke dalam interior lobby gedung perkantoran bersejarah ini,  dalam seketika tidak akan mendengarkan suara bising lalu lintas.

Hal ini bukan karena ditambahkan peredam suara di dinding-dinding bangunan melainkan konstruksi dari gedung perkantoran bersejarah tersebut terutama dalam metode penataan batu bata yang tidak memanjang kesamping, melainkan memanjang kebelakang sehingga dinding bangunan akan lebih tebal dan dapat meredam tekanan angin dan polusi suara yang ada disekitar gedung perkantoran bersejarah ini.

Sungguh sangat menarik melihat perpaduan antara modernitas jaman melalui aktivitas perbankan yang sarat dengan proses teknologi informasi dan berada dalam suatu ruangan kolonial yang mampu membawa kita melihat kebelakang akan catatan sejarah yang terekam dalam setiap sudut ruangannya.

Begitu juga dengan perabot yang digunakan, walaupun sebagian besar sudah mengadopsi furnitur  modern akan tetapi masih belum mampu menghilangkan karakter dasar gedung perkantoran bersejarah dari era kolonial ini, sebaliknya semakin menjadi perpaduan desain yang menarik yang mungkin patut kita jadikan sebagi referensi dalam pengaturan ruangan kerja Anda.

gedung perkantoran bersejarah

gedung perkantoran bersejarah

gedung perkantoran bersejarah

.

Tinggalkan Balasan